Saksi Ahli Tegaskan Pemberian HGB Tidak Ada Kewajiban Penyerahan 20 Persen

REDAKSI MEDAN

- Redaksi

Selasa, 7 April 2026 - 06:40 WIB

50104 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Medan

Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Medan diketuai Muhammad Kasim kembali melanjutkan persidangan terhadap empat terdakwa yang didakwa mengalihkan lahan PTPN II sekarang PTPN I Regional I dengan PT Nusa Dua Propertindo ( NDP), Senin (5/4/2026)

Jaksa Penuntut Umum( JPU) Hendrik Sipahutar dari Kejatisu menghadirkan 4 Saksi Ahli yakni Ahmad Ready ( Ahli Administrasi Negara- HAN dan Perundangan),Suherwin dari Kantor Jasa Penilaian Publik,Hernold Wakaimbang dan Alwi Budianto dari Kantor Akuntan Publik( KAP) Drs Tarmizi Taher

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dipertanyakan

Awalnya kehadiran saksi ahli Ahmad Ready dipertanyakan Johari Damanik dan Julisman selaku Penasihat Hukum terdakwa Iman Subakti selaku eks Direktur PT NDP

Johari mempertanyakan kapasitas Ahmad Ready selaku Ahli HAN dan bukan Ahli Agraria.Padahal objek perkara yang saat ini diperiksa berkaitan erat dengan Hukum Agraria

” Apakah Ahli bisa menjelaskan hal ikhwal yang berhubungan erat denganHukum Agraria.Sedangkan ahli mengaku sebagai ahli HAN,” tanya Johari Damanik dihadapan Majelis Hakim diketuai M Kasih beranggotakan Y Girsang dan Bernad Panjaitan

Menurut Ahmad Ready, meskipun bukan Ahli Hukum Agraria tapi dirinya bisa menjelaskan masalah pertanahan karena Hukum Agraria merupakan bagian dari HAN

Mengenai objek perkara yang menjerat 4 terdakwa yakni Irwan Peranginangin selaku eks Direktur PTPN I, Iman Subakti selaku eks PT NDP, Abdul Rahim Lubis eks Kakan BPN Deliserdang serta Askani selaku Kepala BPN Sumut karena tidak menyerahkan 20 persen kepada negara saat adanya merubah HGU menjadi HGB

Ahmad Ready menjelaskan pasal 88-110 Permen ATR/BPN No 18/2021 yang mengatur tentang mekanisme Pemberian HGB memang tidak ada mengatur tentang adanya kewajiban penyerahan 20 persen tanah kepada negara saat adanya pemberian HGB atas tanah negara..

” Kalau pemberian HGB yang diatur dalam pasal 88-110 Permen No 182021 tidak ada kewajiban penyerahan 20 persen kepada negara,” ujarnya

Sebaliknya kalau merujuk pasal Permen ATR/ BPN No 18/2021 khususnya pasal 165 memang ada yang mengatur kewajiban penyerahan 20 persen.Tapi sampai saat ini belum ada peraturan pelaksana atau juknis dari Kepmen ATR tersebut

” Sampai saat ini belum ada Juknis/Juklak dari Kepmen ATR sebut,sehingga belum ada aturan penyerahan 20 persen tersebut jika harus dilaksanakan” ujarnya

“Jadi, kalau para terdakwa ini mau menyerahkan 20 persen tersebut.Bagaimana caranya apakah bisa 20 persen itu bisa ditukar dengan uang,” sergah Hakim Anggota Y Girsang

Saksi Ahli Ahmad Ready sempat terdiam sejenak bahwa penyerahan 20 persen yang diamanatkan pasal 165 tersebut harus berbentuk tanah bukan uang

” Jadi 20 persen yang diserahkan kepada negara tersebut harus berbentuk tanah karena akan dipergunakan untuk kepentingan sosial bukan berbentuk uang,” ujar Ready

Sementara keterangan ahli dari KJPP dan KAP terjadi perbedaan penilaian harga tanah 93,8 hektar yang sudah dialihkan dari HGU menjadi HGB

Prematur

Usai sidang , Johari Damanik menilai keterangan saksi Ahli Ahmad Ready tersebut memperlihatkan bahwa dakwaan JPU tersebut prematur ( belum siap) menerapkan pasal 165 ayat (1) tersebut

Menurutnya, ketentuan Pasal 165 ayat (1) hanya berlaku dalam konteks perubahan hak, bukan pemberian hak baru.

Perubahan hak sendiri mensyaratkan bahwa entitas pemegang hak tetap sama. Misalnya, jika suatu HGU dimiliki PT A, maka perubahan menjadi HGB juga harus tetap atas nama PT A.

Namun dalam perkara ini, disebutkan bahwa kepemilikan telah berubah melalui mekanisme inbreng, sehingga tidak lagi memenuhi unsur perubahan hak, melainkan masuk dalam kategori pemberian hak baru.

Johari menyebutlan Ahli mengakui, hingga saat ini belum terdapat aturan pelaksana yang mengatur secara teknis mekanisme penyerahan 20 persen tersebut. Hal ini menjadi alasan mengapa ketentuan tersebut dinilai masih prematur untuk diterapkan.

“Belum ada ketentuan pelaksanaan, sehingga belum bisa dijalankan,” ujar Johari

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa meskipun dalam Surat Keputusan (SK) pemberian hak dicantumkan kewajiban 20 persen, pihak perusahaan seperti PTP maupun PT NDP pada prinsipnya tidak menolak. Bahkan disebutkan telah ada kesediaan sejak awal untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Namun, implementasinya masih terkendala sejumlah regulasi lain, termasuk ketentuan yang berkaitan dengan BUMN, serta belum adanya kejelasan mekanisme ganti rugi apabila tanah tersebut diserahkan.

Dalam sidang juga terungkap bahwa kewajiban 20 persen, jika diberlakukan, harus dipenuhi dalam bentuk tanah, bukan uang.

Menurut Johari pemberian hak diberikan atas tanah yang langsung dikuasai negara, sedangkan perubahan hak merupakan perubahan status atas tanah yang masih dimiliki oleh entitas yang sama, dengan jangka waktu yang tetap mengikuti hak sebelumnya.

Dalam kasus ini, dijelaskan bahwa tanah sebelumnya telah dilepas dan menjadi tanah yang dikuasai negara, kemudian diajukan permohonan baru oleh PT NDP dan dikabulkan melalui mekanisme pemberian hak oleh Kementerian ATR/BPN.

“Keterangan ini juga diperkuat oleh saksi fakta dari Kementerian ATR/BPN yang menyatakan bahwa proses yang dilakukan merupakan mekanisme permohonan hak baru, bukan perubahan hak,” kata Johari

Johari juga menyoroti saksi yang menghitung kerugian negara, mengingat dasar perhitungannya bergantung pada asumsi adanya kewajiban 20 persen. Jika kewajiban tersebut tidak ada, maka potensi kerugian negara pun dinilai tidak relevan.(opung)

Teks Photo : 4 Saksi Ahli yang diajukan JPU di Pengadilan Tipikor Medan (ist)

Berita Terkait

Kualitas Udara Menurun akibat Cuaca Ekstrem, Dinkes Takalar Imbau Warga Waspadai ISPA
Sambut Musim Panen, Karang Taruna Gassinggau Gelar Lomba Taksi Gabah Daeng Manye Cup I di Takalar
Wujudkan Pelayanan Prima, Bupati Takalar Canangkan Pelayanan 5S
​Antusiasme Tak Surut, Dapur Umum DPC GRIB Jaya Medan Terus Dibanjiri Warga Penerima Manfaat
PTPN IV Regional I Apresiasi Ketegasan Polri Berantas Narkoba untuk Keamanan Objek Vital Nasional
Pastikan Produksi Pangan Higienis, Lapas Sibolga Skrining Kesehatan Warga Binaan
Lapas Sibolga Terima Kunjungan Dinas DPMPPTSP Tapanuli Tengah, Bahas Legalitas Usaha Rumah Produksi Tempe
Bupati Takalar Daeng Manye Lantik Ahmad Rivai Sebagai Sekda Definitif, Gantikan Muhammad Hasbi

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:11 WIB

TMMD ke-130 TA 2026 Resmi Dibuka di Gayo Lues, Fokus Bangun Infrastruktur dan Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Pembukaan TMMD ke-130 TA 2026, Kodim 0113/Gayo Lues Salurkan Bantuan Sembako kepada Warakawuri dan Masyarakat Kurang Mampu

Jumat, 2 Oktober 2026 - 16:44 WIB

JUMAT BERKAH BRIMOB POLDA ACEH, BERBAGI DAN MEMBANTU MASYARAKAT TERDAMPAK BANJIR DI GAYO LUES

Jumat, 4 September 2026 - 15:46 WIB

Sabu 0,64 Gram Ditemukan di Bawah Kaki, Pria 35 Tahun Diamankan Satreskoba Polres Gayo Lues

Kamis, 27 Agustus 2026 - 21:46 WIB

Sanksi Administratif Gubernur Tak Dihiraukan, PT HAI Dituding Lawan Perintah Pemerintah, AMPL Bawa Persoalan ke Gakkum

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:52 WIB

9 BULAN PASCA-LONGSOR: Hak Sewa Alat Berat Mandeg, Realisasi Janji Darurat BPBD Gayo Lues Dipertanyakan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 23:41 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Tangkap Pengedar Sabu, Amankan 19 Paket Narkotika Seberat 4,34 Gram

Sabtu, 6 Juni 2026 - 02:32 WIB

PT Hopson Diduga Beroperasi Ilegal di Malam Hari, Polda Aceh Diminta Segera Menyegel

Berita Terbaru