MEDAN
Langkah kaki senja di sudut Kota Medan terasa kian berat bagi Nek Aminah (76). Beralaskan sandal jepit swallow tipis yang nyaris putus, jemari ringkihnya yang gemetar dengan telaten memungut satu per satu botol plastik bekas di antara debu jalanan.
Bagi sang wanita renta ini, karung lusuh yang digendongnya bukan sekadar wadah sampah, melainkan satu-satunya penopang napas agar perutnya yang telah menggebu kelaparan sejak pagi tidak berteriak lagi.
Hari itu, ketika terik perlahan berganti temaram, karung plastiknya belum juga genap untuk menukar sepiring nasi.
Di tengah riuh lalu lintas yang terik dan acuh, langkahnya terhenti saat sebuah mobil pelan menghampirinya; Dudi Efni Pasaribu, sosok pegiat kebaikan dan kreator konten lokal yang dikenal luas akan ketulusannya menyisir lorong-lorong kota demi memeluk mereka yang terlupakan, tanpa sengaja berpapasan dengan tatapan sayu Nenek Aminah yang penuh keletihan.
Tanpa canggung, Dudi turun dan mendekat, lalu menyelipkan amplop berisi gulungan lembaran rupiah yang cukup untuk membeli makanan hangat.
Detik itu juga, pertahanan batin Nenek Aminah runtuh seketika; air mata harunya meledak, menetes menembus pipinya yang keriput dan legam oleh debu jalanan.
Jemari ringkih yang kasar itu bergetar hebat saat menggenggam erat tangan Dudi, seolah tak percaya bahwa di tengah kerasnya dunia yang kerap mengabaikannya, Tuhan mengirimkan secercah kasih yang begitu hangat.
Sambil terisak dan menengadahkan dada ke langit, doa-doa tulus dalam bahasa yang terbata-bata meluncur dari bibir pucatnya—sebuah pemandangan menyayat hati yang tidak hanya meluluhkan siapa pun yang menyaksikannya, tetapi juga menjadi pengingat pedih bahwa di balik sudut-sudut megah Kota Medan, masih ada jiwa-jiwa lapar yang amat merindukan sentuhan kemanusiaan.(red)

































