Labuan Bajo // Time Indonesia.com — Di tengah arus modernisasi yang kian deras, denyut nadi kebudayaan lokal sering kali perlahan melemah di ingatan generasi penerus. Namun, di ujung-ujung pulau terpencil, kepedulian yang tulus masih terus bersemi dari tangan-tangan orang yang berdedikasi. Priscilia, atau yang akrab disapa Cici, seorang seniman yang konsisten bergeliat mengembangkan seni di Labuan Bajo, membuktikan bahwa kecintaan pada budaya leluhur mampu merajut kembali harmoni yang mulai memudar.
Melalui sebuah inisiatif mulia, Cici mengusung program pelestarian yang dirancang khusus untuk mengangkat kembali kesenian tradisional masyarakat pulau. Tujuannya sederhana namun mendalam: agar khazanah seni warisan leluhur tidak sekadar menjadi arsip sejarah, melainkan dapat kembali dipelajari, ditarikan, dan dibanggakan oleh generasi muda masa kini yang menjadi pewaris sah kebudayaan tersebut.
Perjalanan mewujudkan mimpi besar ini tentu tidak luput dari ujian alam. Rencana awal kegiatan yang sejatinya dijadwalkan pada bulan Februari di Pulau Longos terpaksa harus ditunda. Cuaca ekstrem saat itu—ditandai dengan hujan deras, angin kencang, serta ombak besar—membuat panitia harus mengambil keputusan bijak demi keselamatan bersama, hingga akhirnya diputuskan untuk menjadwalkan ulang kegiatan ini pada bulan Juli 2026.
Tantangan tersebut kembali diuji saat panitia melaksanakan observasi lapangan. Kondisi angin dan gelombang laut yang masih sangat kencang sempat menghadirkan kekhawatiran tersendiri di benak tim panitia. Kendati demikian, berkat keteguhan niat dan kerja keras seluruh pihak, hambatan alam tersebut berhasil dilalui, dan perhelatan budaya yang dinanti-nanti ini akhirnya sukses terlaksana pada Juli 2026.
Kegiatan ini menjadi semakin istimewa karena menghadirkan ragam kesenian lintas daerah dan suku yang merepresentasikan kekayaan Nusantara. Sejumlah tarian agung yang diangkat di antaranya adalah Tari Pamancak dari Bima serta Pamancak dari Sulawesi Selatan, dipadu dengan keindahan tarian khas Manggarai seperti Tiba Meka, Rangkuk Alu, Caci, hingga tarian khas Suku Bajo.
Secara keseluruhan, perhelatan ini merangkul kekayaan budaya dari empat suku besar yang hidup berdampingan secara harmonis di wilayah pesisir dan kepulauan. Kesenian dari Suku Bugis, Suku Bima, Suku Manggarai, dan Suku Bajo dipentaskan dalam satu panggung kebersamaan, memperlihatkan betapa indahnya keberagaman yang disatukan oleh semangat persaudaraan dan pelestarian seni.
Keberhasilan program ini juga tidak terlepas dari dukungan strategis melalui program Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan tahun 2025 yang direalisasikan pada tahun 2026. Kolaborasi antara seniman, pemerintah, dan masyarakat ini diharapkan mampu menjadi momentum kebangkitan kebudayaan nusantara dari pulau-pulau terluar, menjaga marwah seni tradisi agar tetap hidup abadi di bumi pertiwi.

































