Rafly Jatilukito: Sampaikan Aspirasi dengan Damai, Jangan Rusak Perjuangan

TIME INDONESIA

- Redaksi

Kamis, 10 September 2026 - 13:10 WIB

5080 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Momentum September Hitam kembali menjadi ruang refleksi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk merawat ingatan kolektif terhadap berbagai persoalan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) sekaligus mendorong negara agar terus memperkuat komitmen terhadap demokrasi dan keadilan.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Rafly Jatilukito, Sekretaris Jenderal Basecamp Demokrasi sekaligus tokoh senior di komunitas pelajar, melalui keterangannya, Kamis (10/9).

Ia menegaskan bahwa, mengingat sejarah bukan berarti membuka kembali luka untuk menciptakan permusuhan, melainkan menjadi bagian dari upaya memastikan tragedi kemanusiaan tidak kembali terulang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Perjuangan mengingat sejarah bukanlah upaya untuk membuka kembali luka demi menciptakan permusuhan, melainkan ikhtiar untuk memastikan bahwa tragedi kemanusiaan tidak kembali berulang,” ujar Rafly.

Menurut Rafly, negara perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap berbagai persoalan pelanggaran HAM, membuka ruang transparansi, serta memastikan setiap proses hukum berjalan secara independen dan berkeadilan.

Keadilan bagi korban, kata dia, bukan hanya persoalan moral, tetapi juga merupakan tanggung jawab negara terhadap warga negaranya.

Rafly juga menilai, demokrasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai kebebasan menyampaikan pendapat. Demokrasi harus diwujudkan melalui keberanian negara untuk mendengar kritik dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi dalam memperbaiki kebijakan.

“Kritik terhadap pemerintah, aparat, maupun institusi negara merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis selama disampaikan berdasarkan data, argumentasi, dan kepentingan publik,” katanya.

Karena itu, ia menyerukan agar seluruh pihak mengedepankan dialog, keterbukaan, dan mekanisme hukum dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang menyangkut hak-hak masyarakat. Pendekatan represif, menurutnya, tidak seharusnya menjadi pilihan dalam menghadapi kritik dan perbedaan pendapat.

Lebih lanjut, Rafly menyebut, September Hitam harus menjadi momentum bagi generasi muda untuk membangun kesadaran kritis terhadap perjalanan bangsa.

Ia menolak segala bentuk pengaburan sejarah, pembungkaman suara korban, maupun politisasi penderitaan manusia untuk kepentingan kelompok tertentu. Namun, perjuangan tersebut harus tetap dilakukan dalam koridor etika, hukum dan kemanusiaan.

“Kami percaya bahwa suara yang lantang tidak harus diwujudkan melalui kekerasan. Keteguhan sikap justru dapat ditunjukkan melalui argumentasi yang kuat, disiplin massa, dan aksi yang tertib,” tegasnya.

Rafly mengajak seluruh peserta aksi September Hitam untuk menjadikan momentum tersebut sebagai ruang refleksi sekaligus konsolidasi moral dalam memperjuangkan Indonesia yang lebih demokratis, adil dan menghormati HAM.

Ia menegaskan tiga hal utama yang menjadi pesan dalam momentum tersebut, yakni kebenaran harus dibuka, keadilan harus ditegakkan, dan negara harus memastikan adanya jaminan agar pelanggaran HAM tidak kembali terulang.

“Kami menyerukan kepada seluruh peserta aksi untuk menjaga perjuangan ini tetap damai, kritis, tertib, dan bermartabat. Perjuangan yang besar tidak membutuhkan kerusakan untuk membuktikan keberaniannya,” pungkas Rafly. (Red).

Berita Terkait

Napi Sering Kabur, Tapi Kanwilnya Tidak Pernah di Copot, Anggota Komisi XIII DPR RI Arisal Aziz Usulkan Copot Kepala Kanwil Pemasyarakatan Riau dan Kalapas Pasir Pangaraian
Soroti Deretan Masalah, KAMAKSI Desak OJK dan KPK Periksa Direksi BCA
Menghidupkan Kembali Denyut Seni Tradisional Pulau: Perjuangan Priscilia Merajut Warisan Budaya Nusantara 
Temuan Ombudsman Dipertanyakan, DPP LPPI Jangan Mangada-ngada
“Wahdah Maslahat untuk Takalar Cepat”, Ketua Wahdah Islamiyah Takalar Siap Ungkap Peran dan Gagasan
Rapimnas PII 2026: Dorong Kolaborasi Lintas Kementerian hingga Sektor Desa
Irigasi DI Pamukkulu Takalar Kembali Terhenti, Subkon Sebut Pembayaran Material dan Upah Menunggak
Prof Sutan Nasomal : Tembak Mati Dan Tak Boleh Lepas Dari Hukum. Indonesia Di Serbu Menjadi Pasar Narkoba Dari WN Malaysia

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:55 WIB

Sinergi Cegah Banjir, Rutan Kabanjahe Bersama Kelurahan Kampung Dalam Gelar Kerja Bakti Pembersihan Drainase

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:30 WIB

Sambut Hari Bakti Kemenimipas ke-2, Rutan Tanjung Pura Gelar Gotong Royong Cegah Risiko Banjir ​

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:53 WIB

Warga Binaan Produktif dan Mandiri, Rutan Tanjung Pura Sukses Kembangkan Kawasan Ketahanan Pangan Terpadu

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:27 WIB

​Karutan Tanjung Pura Fransisco Pandia Hadiri Sosialisasi Kelayan Binter, Perkuat Sinergi Reintegrasi Sosial di Langkat

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:50 WIB

Merawat Asa di Desa Sumber Jaya: Ketulusan Kades Sumiran Menghidupkan Kembali Budaya Gotong Royong

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:31 WIB

Gandeng Yayasan Perisai Indonesia, Bapas Medan Siapkan Klien Pemasyarakatan Mandiri dan Produktif

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:45 WIB

Rutan Labuhan Deli Lakukan Sosialisasi Kepada Warga Binaan Terkait Remisi dan Hak Integrasi, Tegaskan Semua Gratis!

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Lapas Sibolga Kebut Pembersihan Lingkungan dan Pembangunan Pagar SDN Hutanabolon 1 Pascabanjir

Berita Terbaru