MEDAN —
Ketersediaan beras dalam jumlah besar yang tersimpan di gudang Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memastikan ketahanan pangan tetap terjaga, terutama ketika terjadi kondisi darurat.
Pemimpin Wilayah (Pimwil) Bulog Sumut, Budi Cahyanto, menegaskan bahwa pengelolaan stok dalam jumlah besar merupakan mandat pemerintah melalui kebijakan pemupukan stok, bukan aktivitas penimbunan untuk kepentingan komersial maupun keuntungan pribadi.
Menurut Budi, cadangan tersebut memiliki fungsi strategis sebagai bantalan pangan yang sewaktu-waktu dapat digunakan ketika daerah menghadapi bencana, gangguan distribusi, kondisi kahar (force majeure) maupun situasi luar biasa lainnya.
“Pemerintah memang ditugaskan untuk menyimpan pangan. Masyarakat sering menyebutnya menimbun, padahal bagi kami istilahnya adalah pemupukan stok. Stok ini memang ditahan dalam jumlah tertentu untuk menghadapi kondisi yang tidak terduga, seperti bencana alam,” ujar Budi di Medan, Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan, penggunaan stok cadangan tidak dilakukan secara bebas oleh Bulog. Setiap pengeluaran beras dari cadangan strategis harus berdasarkan penugasan atau mandat pemerintah sesuai kebutuhan dan kondisi yang dihadapi.
Pengalaman Sibolga-Tapteng Jadi Pelajaran
Pentingnya keberadaan cadangan pangan tersebut, kata Budi, dapat dilihat dari pengalaman ketika wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah (Tapteng) sempat mengalami isolasi akibat bencana.
Saat itu, akses transportasi darat terputus akibat longsor, sementara jalur laut juga sulit digunakan karena kondisi gelombang tinggi. Terputusnya jalur distribusi kemudian memicu kepanikan masyarakat hingga terjadi panic buying dan tekanan terhadap ketersediaan pangan.
Dalam situasi tersebut, stok yang berada di gudang utama Bulog bahkan habis diambil masyarakat secara paksa. Namun, kondisi itu tidak serta-merta membuat pasokan pangan berhenti.
Bulog masih memiliki cadangan sekitar 800 ton yang ditempatkan di luar gudang utama. Cadangan inilah yang kemudian menjadi penopang distribusi pangan sekaligus membantu operasional dapur umum bagi masyarakat terdampak.
“Waktu itu, stok di gudang utama habis diambil paksa. Tetapi kami masih memiliki stok cadangan di luar gudang sebanyak 800 ton. Stok itulah yang kami salurkan untuk membantu menghidupkan dapur-dapur umum, termasuk jatah 300 gram per kepala setiap hari,” jelasnya.
Budi menambahkan, strategi ketahanan pangan Bulog tidak hanya berkaitan dengan jumlah beras yang disimpan, tetapi juga mencakup mitigasi risiko dan penerapan contingency plan untuk memastikan cadangan tetap tersedia ketika jalur distribusi mengalami gangguan.
Aspek ketahanan infrastruktur gudang pun menjadi perhatian, termasuk desain bangunan dan konstruksi lantai yang dibuat lebih tinggi untuk mengantisipasi risiko banjir maupun bencana lainnya.
Selain menghadapi potensi bencana di dalam negeri, pemupukan stok juga menjadi langkah antisipatif terhadap dinamika global, termasuk kemungkinan terganggunya rantai pasok pangan akibat situasi geopolitik dan perubahan kebijakan negara-negara eksportir.
52,17 Juta Kg Beras Disiapkan untuk Masyarakat
Di sisi lain, Bulog Sumut terus menjalankan fungsi pelayanan pangan masyarakat melalui berbagai program pemerintah, termasuk penyaluran bantuan pangan.
Saat ini, Bulog Sumut mengelola stok beras sebanyak 52.177.680 kilogram yang dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan 1.739.256 jiwa penerima bantuan pangan di Sumatera Utara.
Setiap penerima sesuai ketentuan program mendapatkan alokasi 30 kilogram beras secara gratis.
Penyaluran bantuan tersebut terus dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kesiapan daerah, data penerima dan mekanisme distribusi yang telah ditetapkan pemerintah.
Hingga saat ini, realisasi penyaluran telah berjalan di sembilan kabupaten/kota, yakni Deli Serdang, Tebing Tinggi, Asahan, Mandailing Natal, Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, Nias Utara, Karo dan Pakpak Bharat.
Untuk wilayah lainnya di Sumatera Utara, Bulog masih melakukan tahapan persiapan dan sosialisasi lanjutan, termasuk menyesuaikan data serta teknis penyaluran bantuan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Bulog untuk memastikan cadangan pangan tidak hanya aman secara kuantitas, tetapi juga dapat digerakkan secara tepat ketika masyarakat membutuhkan.
Dengan demikian, keberadaan stok besar di gudang Bulog bukan sekadar angka persediaan. Stok tersebut merupakan instrumen pemerintah untuk menjaga stabilitas pangan, menghadapi risiko bencana, mengantisipasi gangguan pasokan serta memastikan masyarakat tetap memperoleh pangan ketika kondisi normal maupun darurat.(AVID/rel)

































