MEDAN
Di balik riuk pikuk Kota Medan, terdapat sudut-sudut pemukiman yang menyimpan derita sunyi. Di sana, garis antara bertahan hidup dan putus asa berjarak sangat tipis. Namun, di tengah pekatnya kemiskinan tersebut, pendar kepedulian tak pernah padam.
Adalah Dudi Efni Pasaribu, Ketua OKK DPC Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Medan, yang memilih tidak memalingkan wajah dari kemalangan di sekelilingnya.
Setiap awal bulan, Dudi secara konsisten melangkah dari pintu ke pintu di sekitar kediamannya untuk membagikan paket beras dan bantuan pangan. Bantuan ini bukan sekadar aksesoris organisasi, melainkan wujud kepedulian murni seorang tetangga.
”Ini memang kegiatan rutin saya setiap awal bulan. Kebetulan tetangga-tetangga saya banyak yang kurang mampu,” tutur Dudi.
Retaknya Keluarga Bang Man: Saat Rak Piring Dijual Kiloan demi Makan
Kisah paling menyayat hati datang dari keluarga Bang Man (bukan nama sebenarnya). Pria yang bekerja serabutan ini hidup dalam garis kemiskinan ekstrem bersama istri dan dua anak laki-lakinya.
Salah satu anaknya mengidap masalah kesehatan mental, sementara anak lainnya menderita cacat fisik pada kaki akibat kecelakaan—membuatnya mustahil mendapatkan pekerjaan layak.
Tekanan ekonomi yang teramat berat meremukkan keharmonisan keluarga ini. Dalam keterbatasan yang memuncak, perabot rumah tangga seperti sendok hingga rak piring habis dijual ke pengepul barang bekas (botot) hanya demi memperpanjang napas untuk hari itu.
Stres yang mendalam memicu konflik tak berkesudahan di dalam rumah sempit beratap bocor tersebut. Untuk meredam pertikaian, rumah mungil itu akhirnya harus diberi dinding pembatas di tengahnya—membagi bangunan ringkih tersebut menjadi dua bagian terpisah.
”Kondisi mereka sangat miris. Karena sering cekcok akibat tekanan hidup, rumah sempit itu terpaksa diberi pembatas. Kalau saya membagikan beras ke sana, harus membawa dua karung terpisah untuk masing-masing bagian,” ungkap Dudi dengan nada prihatin.
Kisah-Kisah Sunyi di Sebelah Rumah
Satu garis lorong di lingkungan tersebut bagaikan etalase ketimpangan sosial:
- Penjual Mie Ayam Lansia: Tepat di sebelah rumah Dudi, seorang ibu tua yang ditinggal mati suaminya bertahan hidup bersama sang anak dalam keterbatasan.
- Mantan ART di Rumah Tepas: Di depan rumahnya, seorang lansia mantan Asisten Rumah Tangga (ART) kini terbaring sakit-sakitan di dalam rumah berdinding tepas. Ia bertahan hidup dari iba sang anak setelah ditinggal pergi oleh suaminya.
- Masa Tua Mantan Penjual Lontong: Pasangan lansia yang dahulu berjualan lontong kini tak lagi memiliki tenaga untuk mengaduk kuali. Fisik yang digerogoti usia memaksa mereka bergantung sepenuhnya pada belas kasih.
- Janda Empat Anak: Seorang janda tua harus membanting tulang menjadi ART demi menopang empat orang anaknya yang masih membutuhkan biaya hidup.
- Satu Atap, Banyak Beban: Di rumah lainnya, sepasang suami istri pekerja serabutan dan ART harus menampung 6 orang anak, seorang ayah yang sudah renta, serta seorang paman yang terbaring lumpuh akibat serangan stroke.
Menjaga Harapan Tetap Menyala
Bagi Dudi Efni Pasaribu, apa yang dilakukannya saban bulan bukanlah bentuk kedermawanan yang megah, melainkan panggilan nurani. Di tengah minimnya perhatian publik terhadap masyarakat yang berada di ambang garis kemiskinan ekstrem, genggaman tangan dari seorang tetangga menjadi penambal harapan yang paling nyata.
Aksi nyata Dudi menjadi pengingat keras bagi semua pihak: bahwa tepat di sebelah dinding rumah kita, mungkin ada tetangga yang sedang bingung apakah esok hari mereka masih bisa menanak nasi atau tidak.(red)

































