Di Balik Dinding Tepas dan Sendok yang Dijual demi Sesuap Nasi: Potret Kepedulian Dudi Efni Pasaribu di Sudut Medan

REDAKSI MEDAN

- Redaksi

Senin, 10 Agustus 2026 - 14:50 WIB

508 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN

​Di balik riuk pikuk Kota Medan, terdapat sudut-sudut pemukiman yang menyimpan derita sunyi. Di sana, garis antara bertahan hidup dan putus asa berjarak sangat tipis. Namun, di tengah pekatnya kemiskinan tersebut, pendar kepedulian tak pernah padam.

​Adalah Dudi Efni Pasaribu, Ketua OKK DPC Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Medan, yang memilih tidak memalingkan wajah dari kemalangan di sekelilingnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap awal bulan, Dudi secara konsisten melangkah dari pintu ke pintu di sekitar kediamannya untuk membagikan paket beras dan bantuan pangan. Bantuan ini bukan sekadar aksesoris organisasi, melainkan wujud kepedulian murni seorang tetangga.

​”Ini memang kegiatan rutin saya setiap awal bulan. Kebetulan tetangga-tetangga saya banyak yang kurang mampu,” tutur Dudi.

Retaknya Keluarga Bang Man: Saat Rak Piring Dijual Kiloan demi Makan

​Kisah paling menyayat hati datang dari keluarga Bang Man (bukan nama sebenarnya). Pria yang bekerja serabutan ini hidup dalam garis kemiskinan ekstrem bersama istri dan dua anak laki-lakinya.

Salah satu anaknya mengidap masalah kesehatan mental, sementara anak lainnya menderita cacat fisik pada kaki akibat kecelakaan—membuatnya mustahil mendapatkan pekerjaan layak.

​Tekanan ekonomi yang teramat berat meremukkan keharmonisan keluarga ini. Dalam keterbatasan yang memuncak, perabot rumah tangga seperti sendok hingga rak piring habis dijual ke pengepul barang bekas (botot) hanya demi memperpanjang napas untuk hari itu.

​Stres yang mendalam memicu konflik tak berkesudahan di dalam rumah sempit beratap bocor tersebut. Untuk meredam pertikaian, rumah mungil itu akhirnya harus diberi dinding pembatas di tengahnya—membagi bangunan ringkih tersebut menjadi dua bagian terpisah.

​”Kondisi mereka sangat miris. Karena sering cekcok akibat tekanan hidup, rumah sempit itu terpaksa diberi pembatas. Kalau saya membagikan beras ke sana, harus membawa dua karung terpisah untuk masing-masing bagian,” ungkap Dudi dengan nada prihatin.

Kisah-Kisah Sunyi di Sebelah Rumah

​Satu garis lorong di lingkungan tersebut bagaikan etalase ketimpangan sosial:

  • Penjual Mie Ayam Lansia: Tepat di sebelah rumah Dudi, seorang ibu tua yang ditinggal mati suaminya bertahan hidup bersama sang anak dalam keterbatasan.
  • Mantan ART di Rumah Tepas: Di depan rumahnya, seorang lansia mantan Asisten Rumah Tangga (ART) kini terbaring sakit-sakitan di dalam rumah berdinding tepas. Ia bertahan hidup dari iba sang anak setelah ditinggal pergi oleh suaminya.
  • Masa Tua Mantan Penjual Lontong: Pasangan lansia yang dahulu berjualan lontong kini tak lagi memiliki tenaga untuk mengaduk kuali. Fisik yang digerogoti usia memaksa mereka bergantung sepenuhnya pada belas kasih.
  • Janda Empat Anak: Seorang janda tua harus membanting tulang menjadi ART demi menopang empat orang anaknya yang masih membutuhkan biaya hidup.
  • Satu Atap, Banyak Beban: Di rumah lainnya, sepasang suami istri pekerja serabutan dan ART harus menampung 6 orang anak, seorang ayah yang sudah renta, serta seorang paman yang terbaring lumpuh akibat serangan stroke.

Menjaga Harapan Tetap Menyala

​Bagi Dudi Efni Pasaribu, apa yang dilakukannya saban bulan bukanlah bentuk kedermawanan yang megah, melainkan panggilan nurani. Di tengah minimnya perhatian publik terhadap masyarakat yang berada di ambang garis kemiskinan ekstrem, genggaman tangan dari seorang tetangga menjadi penambal harapan yang paling nyata.

​Aksi nyata Dudi menjadi pengingat keras bagi semua pihak: bahwa tepat di sebelah dinding rumah kita, mungkin ada tetangga yang sedang bingung apakah esok hari mereka masih bisa menanak nasi atau tidak.(red)

Berita Terkait

Sengit! Turnamen Mini Soccer U-14 Piala PAC GRIB Jaya Medan Baru Memasuki Babak Semifinal
Rutan Tarutung Gelar Razia Gabungan Bersama TNI–POLRI, Wujudkan Lingkungan Rutan yang Aman dan Tertib
Cegah Karhutla Meluas, Wakapolda Riau dan Irdam XIX/TT Turun Langsung Padamkan Api di Pasir Limau Kapas
DPC GRIB Jaya Medan Hadiri Tahlilan 40 Hari Wafatnya Ferry Adi Kurniawan “Ferdonk”
Masyarakat Diharapkan Semakin Memahami Autoimun, Juga Kalangan Wartawan
Harakah BAKOMUBIN DKI Jakarta dan FH UHAMKA Gelar Pelatihan Advokasi serta Paralegal Berbasis Masyarakat
Dandim 0603/Lebak Resmi Buka Kejuaraan Karate Antar Dojo INKAI, Jaring Bibit Atlet Unggul Sambut HUT ke-81 RI
Rutan Humbahas Gelar Razia Insidentil, Perkuat Komitmen Berantas HALINAR Bersama Kanwil Ditjenpas Sumut

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 15:25 WIB

Ganja 4,7 Kg Disembunyikan di Bawah Tempat Tidur, Satresnarkoba Bongkar Peredaran di Ketambe

Senin, 10 Agustus 2026 - 13:30 WIB

Jadi Pembina Upacara di SMAN 1 Kutacane, Kapolres Ajak Pelajar Raih Cita-Cita dan Jauhi Narkoba

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:04 WIB

Pasca Kebakaran Ponpes Darul Mukhlasin, Kapolres dan Bupati Aceh Tenggara Turun Langsung Salurkan Bantuan

Kamis, 6 Agustus 2026 - 16:43 WIB

Perkuat Perang Melawan Narkoba, Kapolres Aceh Tenggara Tegaskan Satresnarkoba Harus Bergerak Hingga ke Akar Jaringan

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:44 WIB

Laporan Masyarakat Berujung Penangkapan, Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Ungkap Kasus Sabu

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:51 WIB

Sinergi Polisi dan Masyarakat Berbuah Hasil, Seorang Penyalahgunaan Sabu Kembali Terungkap

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:37 WIB

Keselamatan Prioritas Utama, Kapolres Aceh Tenggara Imbau Warga Siaga Banjir dan Longsor

Jumat, 31 Juli 2026 - 22:32 WIB

Berawal dari Laporan Warga, Tim Opsnal Satresnarkoba Polres Agara Bongkar Peredaran Sabu di Lawe Alas

Berita Terbaru

Uncategorized

KAPOLRES PIMPIN SERTIJAB SEJUMLAH PEJABAT UTAMA DI MAPOLRES KARO

Senin, 10 Agu 2026 - 17:06 WIB